Jepara – Keluarga besar RSI Sultan Hadlirin Jepara mengisi momentum Ramadan dengan kegiatan buka bersama yang dirangkai dengan siraman rohani. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Sabtu, 7 Maret 2026, menjelang waktu berbuka puasa, dan diikuti oleh pimpinan rumah sakit, pejabat struktural, kepala ruang, serta perwakilan unit dan ruangan.
Dalam kegiatan tersebut, tausiyah disampaikan oleh Ustadz Ahmad Fajar Inhadl yang mengajak para peserta menadaburi kisah kepemimpinan Thalut dalam menghadapi Jalut, sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an surat Surah Al-Baqarah ayat 249.
Dalam tausiyahnya, ia menjelaskan bahwa sebelum menghadapi pasukan Jalut, pasukan Thalut terlebih dahulu diuji di tepi sungai. Dalam ujian tersebut, sang pemimpin memerintahkan pasukannya agar tidak meminum air sungai kecuali hanya seciduk tangan. Ujian itu bukan sekadar persoalan menahan dahaga, melainkan simbol ujian ketaatan dan integritas.
Menurutnya, peristiwa di tepi sungai tersebut dapat dipahami sebagai sebuah simulasi kepemimpinan dan manajemen manusia. Sungai melambangkan godaan atau zona nyaman, sedangkan perintah “seciduk tangan” menjadi filter yang membedakan siapa yang mampu mengendalikan diri dan siapa yang mengikuti hawa nafsunya. Dari ujian itu tampak siapa yang benar-benar siap menghadapi perjuangan besar.
Ia menegaskan bahwa kemenangan sejati sering kali dimulai dari kemampuan seseorang untuk mengalahkan dirinya sendiri. Dalam banyak situasi, manusia kalah bukan karena lawan yang kuat, melainkan karena ego yang tidak terkendali.
Dalam konteks Ramadan, ia menjelaskan bahwa puasa merupakan sarana pendidikan spiritual yang melatih pengendalian diri. Menahan lapar dan dahaga bukanlah tujuan utama, melainkan latihan untuk menahan hawa nafsu, emosi, serta dorongan ego yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai tersebut, lanjutnya, juga relevan dengan kehidupan organisasi, termasuk di lingkungan rumah sakit. Kedisiplinan, kejujuran, dan kemampuan menahan diri menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan dalam sebuah tim kerja. Ketika setiap individu mampu mengendalikan ego dan menjaga integritas, maka organisasi akan berjalan dengan lebih sehat dan harmonis.

Melalui tadabur kisah Thalut dan Jalut ini, para peserta diharapkan dapat memaknai Ramadan sebagai momentum pembentukan karakter. Puasa tidak hanya memperkuat hubungan spiritual dengan Allah, tetapi juga menumbuhkan sikap sabar, disiplin, dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas pelayanan kepada pasien dan kepada sesama.
Siraman rohani tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian kegiatan buka bersama keluarga besar RSI Sultan Hadlirin Jepara yang tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga sarana penguatan nilai-nilai moral dan spiritual dalam dunia pelayanan kesehatan.




