Jepara, 1 April 2026 — RSI Sultan Hadlirin Jepara menyelenggarakan pembinaan bagi para imam salat Masjid Syifaul Janan sebagai bagian dari program penguatan layanan spiritual pasien yang digagas oleh Plt. Direktur RSI Sultan Hadlirin Jepara, dr. Singgih Setyono. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu pagi (09.00–11.00 WIB) di Aula lantai dua ini diikuti sekitar 15 peserta dari unsur karyawan rumah sakit.
Program ini merupakan bagian dari pengembangan pelayanan berbasis nilai-nilai keislaman yang berada di bawah koordinasi Bimbingan dan Pelayanan Islam (BPI) sebagai subbagian yang menaungi layanan bimbingan spiritual pasien di RSI Sultan Hadlirin Jepara. Dalam arahannya, dr. Singgih menegaskan bahwa pelayanan kesehatan di rumah sakit Islam harus bersifat komprehensif dengan mengintegrasikan aspek fisik, psikologis, dan spiritual. Menurutnya, bimbingan spiritual, healing, dan terapi ruhani merupakan bagian penting yang dapat meningkatkan kualitas layanan sekaligus mempercepat proses kesembuhan pasien.
Beliau menjelaskan bahwa kondisi pasien, khususnya yang berada dalam kategori hopeles, kerap dipengaruhi oleh faktor mental dan psikologis yang memerlukan pendampingan khusus. Tanpa dukungan spiritual yang memadai, kondisi tersebut berpotensi memperburuk keadaan pasien.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa keberhasilan penyembuhan tidak hanya ditentukan oleh intervensi medis. Sekitar 60–70 persen dipengaruhi oleh kondisi fisik, sementara 30–40 persen lainnya berkaitan dengan faktor psikis dan sosial. Bahkan, sugesti positif dari tenaga kesehatan dapat memberikan dampak signifikan terhadap proses pemulihan pasien. Melalui penguatan peran BPI, RSI Sultan Hadlirin terus mendorong pengembangan layanan konsultasi spiritual sebagai bagian dari inovasi pelayanan yang terintegrasi dengan sistem pelayanan medis.
Mengacu pada Al-Qur’an Surah Ali-Imran Ayat 159, para imam diharapkan mengedepankan sikap lembut, empatik, dan tidak menghakimi dalam memberikan bimbingan kepada pasien dan keluarga.

Selain itu, dr. Singgih menekankan pentingnya optimalisasi fungsi masjid sebagai pusat inspirasi, pembelajaran, dan penguatan spiritual. Meneladani Masjid Quba, Masjid Syifaul Janan diharapkan menjadi pusat kegiatan ruhani, termasuk melalui kultum dan penyampaian hadis oleh para imam.
Mengakhiri arahannya, ia mengajak seluruh civitas hospitalia untuk memakmurkan masjid, baik secara fisik maupun melalui aktivitas keagamaan yang berkelanjutan, sehingga masjid dapat menjadi bagian integral dari proses healing dan penguatan spiritual pasien.
BPI-Khoirul Manan




